TANAH LOT BALI
Tanah Lot merupakan salah satu spot wisata yang sangat terkenal di Bali. Yang menarik di obyek wisata tanah lot ini adalah sebuah batu besar yang berada di bibir pantai yang diatasnya ada pura. Dan pura ini ditujukan untuk memuja roh-roh penghuni laut.
TanahLot ini berada di kabupaten Tabanan tepatnya di bagian selatannya. Terletak di desa Beraban atau 13 km sebelah barat Tabanan, Pura Tanah Lot hampir selalu ditawarkan oleh setiap pemandu wisata di Bali untuk dikunjungi. Tempat yang asik tuk memotret sunset ini (sambil duduk-duduk dan minum kelapa muda) memiliki keunikan antara lain lokasi pura yang berada diatas bukit batu besar pinggir laut. pada saat air surut dan tingginya tidak lebih dari selutut, kita masih bisa menyebrang menuju tempat itu.
Selain Pura yang berada diatas batu, juga ada pura yang berada di tebingnya persis disebelah gerbang kita menuju pura yang berada di bibir pantai. Pantai tanah lot ini tidak berupa pasir tetapi berupa batu-batu karang, sehingga harap berhati-hati karena agak licin dengan lumut dan rumput-rumput lautnya.
Pura ini didirikan pada abad ke XV Masehi oleh Pedanda Bawu Rawuh atau Danghyang Nirartha yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Pura Tanah Lot terletak di laut atau terpisah dari daratan dan di sekitar pura ini terdapat pula beberapa pura kecil dan besar antara lain Pura Pekendungan. Di bawah dan di sebelah barat terdapat sumber air tawar yang merupakan air suci bagi Umat Hindu. Pura Tanah Lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri + 13 km dari kota Tabanan, lengkap dengan tempat parkir yang memadai. Bila air laut surut para pengunjung dapat langsung sampai ke pelataran pura untuk bersembahyang.
Di bawah pura terdapat beberapa gua yang di dalamnya hidup beberapa ekor ular besar dan kecil berwarna hitam putih. Ular-ular ini sangat jinak dan tidak boleh diganggu. Jika air laut pasang, maka pura ini akan kelihatan seperti sebuah perahu terapung di atas air. Di Tanah Lot kita dapat menyaksikan timbulnya bulan purnama di malam hari dan tenggelamnya matahari di kaki langit, merupakan suatu pemandangan yang sangat indah.
Obyek wisata ini sangat cocok dinikmati di kala matahari akan tenggelam atau saat sunset, karena view suset yang memantul di laut di belakang tanah lot akan menimbulkam pemandangan yang indah sekali dengan tanah lotnya yang berupa siluet. Dan disekitar lokasi Tanah Lot ini juga sudah banyak berdiri resort-resort mahal seperti Le meredien dengan lapangan golf nya.
Di sepanjang antara areal parkir dengan obyek wisatanya banyak ditemui penjual cindera mata khas Bali. Tiket masuknya sangat murah. Jadi jangan sampai mdilewatkan untuk mengunjungi Tanah Lot di kala sunset di Bali.
Menurut sebuah sumber tersebutlah legenda dari kisah perjalanan pendeta asal Jawa Timur bernama Dang Hyang Nirartha yang tengah menuju ke timur untuk menyebarkan ajaran Hindu. Sampai pada suatu saat, Dang Hyang Nirartha tiba di salah satu pantai dengan pulau kecil ditengah lautnya dengan tanah parangan dan bebatuan keras di bawahnya. di tempat itulah sang pendeta beristirahat dan tak lama kemudian datang para nelayan membawa sesembahan untuknya. kemudian di tempat itu Dang Hyang Nirartha menyampaikan ajaran agamanya dan menyarankan masyarakat sekitar tuk membangun tempat suci di pulau tempatnya menginap.
Sepeninggal sang pendeta, masyarakat membangun tempat suci di atas pulau dengan nama Pura Luhur Tanah Lot yang artiya tanah di tengah laut. Ternyata tidak semua orang boleh masuk ke dalam pura tersebut. para wisatawan hanya diperbolehkan melongok dari bawah pura. hanya orang-orang tertentu yang hendak bersembahyang atau melakukan kegiatan keagamaan yang diperkenankan masuk ke dalam pura. Terkait dengan konsep triangga (penggambaran tubuh manusia dari kepala, badan hingga kaki), pura ini menjadi terkait dengan 2 tempat suci lainnya di Tabanan, yaitu Pura Luhur Batukaru (hulu) dan Pura Puser Tasik (madya) serta Pura Tanah Lot sebagai hilirnya. Pura hulu dan hilir ini pun digambarkan sebagai simbolisasi lingga dan yoni, Pura Luhur Batukaru sebagai lingga (purusa)dan Pura Tanah Lot sebagai yoni (segara). perpaduannya menjadi sumber kehidupan yang mensejahterakan manusia disekitarnya.
Di sebelah utara pura, tepatnya di dalam gua bawah tebing, terdapat ular yang dikeramatkan. ular pipih beracun berwarna hitam kuning ini dipercaya sebagai selendang Dang Hyang Nirartha yang terlepas saat sedang bertapa dan hingga kini menjadi penjaga pura. di tempat ini pula terdapat sumber air tawar bernama Tirta Pabersihan (biasa digunakan sebagai sarana memohon kesucian).
Prosesi keagamaan Sebelum Hari Saraswati di Tanah Lot
Hindu di Tanah Lot percaya bahwa pengetahuan adalah media penting untuk mencapai tujuan hidup sebagai manusia. Hari Saraswati yang dirayakan untuk menghormati Allah sebagai sumber pengetahuan. Allah, dalam perayaan khusus ini, adalah manifested sebagai Dewi Saraswati, Dewi Saraswati. Dia digambarkan sebagai wanita cantik dengan empat tangan memegang alat musik, meditasi titis rantai, serta daun palem naskah. Banyak kali Saraswati digambarkan untuk berdiri pada angsa. Keindahan wanita adalah simbol bahwa pengetahuan yang menarik banyak orang. Alat musik yang melambangkan pengetahuan yang menghibur, semakin banyak Anda ke dalamnya yang lebih indah dan menarik dapat.
The naskah (atau buku) adalah di mana pengetahuan disimpan. Rantai adalah simbol pengetahuan yang tidak pernah selesai untuk belajar, tidak ada awal dan akhir. Mirip dengan ritual keagamaan lainnya di Tanah Lot, Saraswati hari keagamaan juga memiliki berbagai langkah sebelum dan sesudah hari yang sebenarnya. Enam hari sebelum Saraswati (Senin, 27 Juli 2009) adalah Pemelastali, satu hari untuk membebaskan kami dari keinginan duniawi. Empat hari dan setelah hari sebelum Saraswati (Selasa, 28 Juli 2009) dipanggil Dibayar Paidan, Urip dan Patetegan (Rabu, 29 Juli 2009 yang berarti hari untuk mengendalikan keinginan, terus melakukan introspeksi oleh memegang kemurnian pengetahuan. Pada sebelum hari Saraswati disebut Pengeredanaan (Jumat, 31 Juli 2009), satu hari untuk mempersiapkan Saraswati Hari baik secara fisik dan rohani. Buku dikumpulkan, dibersihkan dan ditempatkan di tempat-tempat yang benar. persembahan khusus dibuat untuk digunakan untuk hal-hal berikut perayaan.
Daftar Bacaan
http://id.wikipedia.org
http://sieztha.wordpress.com
http://www.paketkebali.com
http://www.tanahlot.net
Tips Menulis Resensi Buku
Posted by
Daulat
at
6:43 AM
Pada tataran yang paling sederhana sebenarnya kita sudah biasa meresensi. Ketika kita berkomentar atau bercerita kepada orang lain tentang suatu peristiwa, setidaknya sudah bisa dikatakan melakukan resensi terhadap suatu peristiwa tersebut. Menyampaikan kembali, menilai atau membandingkan suatu kejadian dengan kejadian lain misalnya, itulah arti - sekali lagi secara sederhana - dari meresensi. 
Demikian pula dengan meresensi buku, pada dasarnya dapat berarti mengulas kembali isi maupun seluk beluk buku tersebut. Namun jika hasil resensi itu dimaksudkan untuk diekspose di media massa, maksudnya dikirim ke sebuah koran atau majalah - tabloid juga bisa - tentunya harus dibuat sedemikian rupa, sehingga layak atau menarik untuk dikonsumsi pembaca. Pada tataran inilah seorang resensor memerlukan penguasaan teknik-teknik meresensi yang baik.
Sebelum masuk ke soal teknik, terlebih dahulu perlu pahami tentang cara atau model - atau boleh dibilang tahapan - resensi. Model atau tahapan ini adakalanya menjadi tolok ukur penguasaan resensor terhadap objek yang diresensi, sekaligus juga wawasan yang dimiliki resensor berkaitan dengan objek tersebut. Ada tiga jenis atau tahap resensi:
Pertama, cara deskriptif. Pada tahap ini resensor cukup mendiskripsikan isi buku secara singkat. Mirip membuat sinopsis. Tentu saja juga dilengkapi dengan identitas buku, penulis , serta penerbitnya. Konon cara ini paling mudah dan cocok untuk pemula.
Kedua, cara evaluatif. Selain mengemukakan isi buku, juga melibatkan penilaian terhadap buku tersebut. Memberikan kritik atau saran, baik menyangkut isi ataupun tampilan buku. Tentu saja cara ini satu tingkat lebih sulit daripada yang pertama. Resensor harus betul-betul memahami isi buku.
Ketiga, cara komparatif. Cara ini selain mengemukakan isi dan memberikan kritik, juga membandingkan dengan buku yang lain yang kurang lebih membahas persoalan sama. Apa kelebihan dan kekurangan buku itu. Jadi paling tidak harus membaca dua buku untuk perbandingan. Resensor dalam hal ini dituntut memiliki referensi yang kuat tentang persoalan yang dibahas dalam buku tersebut.
Sekarang menyangkut teknik. Pilih buku yang membahas persoalan aktual. Usahakan memilih buku yang ditulis penulis yang sudah punya nama. Diterbitkan oleh penerbit yang cukup terkenal. Baca dan cari hal-hal yang menarik dari buku itu. Jangan lupa mencatat sisi-sisi yang menarik tersebut. Ini berguna untuk memberi tekanan pada hasil resensi.
Buat skema ringkas isi buku. Beri judul resensi yang menantang. Tulis lead yang menarik. Judul dan lead ibarat wajah yang memberi kesan pertama. Jika judul dan lead bagus akan menarik untuk dibaca. Ingat kata iklan: “kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah….” Yang terakhir dan sangat penting adalah: MENCOBA. Setumpuk teori tidak ada artinya tanpa pernah mencoba mempraktikkan. Nah, selamat mencoba!

Demikian pula dengan meresensi buku, pada dasarnya dapat berarti mengulas kembali isi maupun seluk beluk buku tersebut. Namun jika hasil resensi itu dimaksudkan untuk diekspose di media massa, maksudnya dikirim ke sebuah koran atau majalah - tabloid juga bisa - tentunya harus dibuat sedemikian rupa, sehingga layak atau menarik untuk dikonsumsi pembaca. Pada tataran inilah seorang resensor memerlukan penguasaan teknik-teknik meresensi yang baik.
Sebelum masuk ke soal teknik, terlebih dahulu perlu pahami tentang cara atau model - atau boleh dibilang tahapan - resensi. Model atau tahapan ini adakalanya menjadi tolok ukur penguasaan resensor terhadap objek yang diresensi, sekaligus juga wawasan yang dimiliki resensor berkaitan dengan objek tersebut. Ada tiga jenis atau tahap resensi:
Pertama, cara deskriptif. Pada tahap ini resensor cukup mendiskripsikan isi buku secara singkat. Mirip membuat sinopsis. Tentu saja juga dilengkapi dengan identitas buku, penulis , serta penerbitnya. Konon cara ini paling mudah dan cocok untuk pemula.
Kedua, cara evaluatif. Selain mengemukakan isi buku, juga melibatkan penilaian terhadap buku tersebut. Memberikan kritik atau saran, baik menyangkut isi ataupun tampilan buku. Tentu saja cara ini satu tingkat lebih sulit daripada yang pertama. Resensor harus betul-betul memahami isi buku.
Ketiga, cara komparatif. Cara ini selain mengemukakan isi dan memberikan kritik, juga membandingkan dengan buku yang lain yang kurang lebih membahas persoalan sama. Apa kelebihan dan kekurangan buku itu. Jadi paling tidak harus membaca dua buku untuk perbandingan. Resensor dalam hal ini dituntut memiliki referensi yang kuat tentang persoalan yang dibahas dalam buku tersebut.
Sekarang menyangkut teknik. Pilih buku yang membahas persoalan aktual. Usahakan memilih buku yang ditulis penulis yang sudah punya nama. Diterbitkan oleh penerbit yang cukup terkenal. Baca dan cari hal-hal yang menarik dari buku itu. Jangan lupa mencatat sisi-sisi yang menarik tersebut. Ini berguna untuk memberi tekanan pada hasil resensi.
Buat skema ringkas isi buku. Beri judul resensi yang menantang. Tulis lead yang menarik. Judul dan lead ibarat wajah yang memberi kesan pertama. Jika judul dan lead bagus akan menarik untuk dibaca. Ingat kata iklan: “kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah….” Yang terakhir dan sangat penting adalah: MENCOBA. Setumpuk teori tidak ada artinya tanpa pernah mencoba mempraktikkan. Nah, selamat mencoba!
Dasar-Dasar Jurnalistik
Posted by
Daulat
at
6:04 AM
- Pengertian
Jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara singkat sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Ditelusur dari akar katanya (diurma ‘harian’, Latin; jour ‘hari’, Prancis), jurnalistik adalah kegiatan membuat laporan harian, mulai dari tahap peliputan sampai dengan penyebarannya. Jurnalistik sering disebut juga sebagai jurnalisme (journalism). Berdasarkan media yang digunakannya, jurnalistik sering dibedakan menjadi jurnalistik cetak (print journalism) dan jurnalistik elektronik (electronic journalism). Beberapa tahun belakangan ini muncul pula jurnalistik online (online journalism).
Di samping jurnalistik atau jurnalisme dikenal pula istilah pers (press). Dalam pengertian sempit pers adalah publikasi secara tercetak (printed publication), melalui media cetak, baik suratkabar, majalah, buletin, dsb. Pengertian ini kemudian meluas sehingga mencakup segala penerbitan, bahkan yang tidak tercetak sekalipun, misalnya publikasi melalui media elektronik semacam radio dan televisi. Berdasarkan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa jurnalistik tercakup sebagai bidang kegiatan pers; sementara tidak semua kerja pers tercakup sebagai jurnalistik. Walaupun begitu, sering kali keduanya dipersamakan atau dicampuradukkan.
2. BeritaLalu, apa itu berita? Berita (news) adalah laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual); laporan mengenai fakta-fakta yang aktual, menarik perhatian, dinilai penting, atau luar biasa.
1) Apa peristiwa, berita atau objek tulisan ?
2) Apa yang pantas ditulis atau bagaimana mengeksplorasi ?
3) Bagaimana menulis ?
Tentu modal awal yang harus kita miliki adalah ketekunan, kegigihan dan Vitalitas .
3. Unsur-Unsur Berita
Berita adalah peristiwa yang terjadi dan peristiwa adalah jalan cerita . Dengan ini diperkenalkan prinsip 5W 1 H yaitu; What, Who, When, Where,Why dan How.
(1) What – apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
(2) Who – siapa yang terlibat di dalamnya?
(3) Where – di mana terjadinya peristiwa itu?
(4) When – kapan terjadinya?
(5) Why – mengapa peristiwa itu terjadi?
(6) How – bagaimana terjadinya?
4. Nilai Berita
selanjutnya adalah bahwa tidak semua peristiwa itu penting, sehingga kita mengenal nilai berita (News values). Nilai berita biasanya dinilai dari besar kecilnya dampak peristiwa kepada masyarakat (consequences), menarik atau tidak dengan ragam cara hidup manusia (human interest), besar kecilnya ketokohan yang terlibat dalam peristiwa (prominence), jauh dekatnya peristiwa dari orang yang mengetahui beritanya, atau nilai-nilai sosial yang menjadi sasaran pembacanya (proximity) dan aktualitas (timeliness).
Objektif – berdasarkan fakta, tidak memihak.
Aktual – terbaru, belum “basi”.
Luar biasa – besar, aneh, janggal, tidak umum.
Penting – pengaruh atau dampaknya bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.
Jarak – familiaritas, kedekatan (geografis, kultural, psikologis).
5. Macam Tulisan Berita
Straight News
Straight News adalah berita/laporan yang diringkas. Straight News memuat berita yang penting-peting saja, dengan kaidah 5W 1H, kadang terdiri dari awal klimaks dan akhir. Straight News adalah laporan dari teknik reportasi dasar, misalnya; untuk melaporkan sebuah kejadian di sebuah harian. Straight News nilai beritanya tidak awet, karena hanya bersifat memaparkan. Ketertarikan Straight News justru terletak pada pengawalan (Lead), hubungan antara lead dengan isi berita, keakuratan data hasil reportasi dan cara penyajian. Penyajian Straight News harus sesuai dengan aturan piramida terbalik, lebih bersifat deskriptif, dan harus menghindari kata berkabut untuk menjamin kejernihan tulisan. Yang terpenting dari sebuah Straight News adalah informasi aktualnya.
Feature (News Feature)
Feature adalah teknik mengisahkan sebuah cerita. Dalam menulis Feature nilai aktualitas bukanlah hal yang terpenting. Feature mengungkap secara lebih dalam tentang satu sisi dari suatu objek berita sehingga diperlukan informasi yang lebih dalam lagi dan mencoba menguak hakikat nilai terdalam yang terdapat dari sebuah peristiwa. Hal ini menyebabkan tulisan Feature tidak akan lekang dimakan usia. Dengan Feature memungkinkan kita menyuguhkan sisi-sisi atau hal-hal yang bisa membangkitkan rasa haru, mengagumkan, membanggakan, kepedihan, kepiluan, kesengsaraan pokoknya semua hal yang menyentuh hati nurani, karena memang digali dan diarahkan pada hakikat kemanusiaan atau kedirian (eksistensi) dari sesuatu peristiwa/objek berita. Secara teknis biasa dalam bentuk "aku" sehingga memberi ruang keleluasaan bagi penulis dalam memasukan aspek emosionalnya atau larut dalam cerita. Feature biasanya ditulis dalam bentuk Deskriptif-Naratif.
News Analysis (In-depth)
News Analysis adalah bentuk penulisan dengan analisa yang lebih dalam terhadap suatu objek penulisan atau objek berita. Dengan News Analysis kita akan berusaha memandang sesuatu hal dari segala segi dan menghubungkan semua sudut pandang tersebut pada suatu fokus pembicaraan. Fokus pembicaraan ini biasanya dipilih pada suatu permasalahan yang sangat kurang tersentuh oleh penulisan media yang lain, atau belum pernah serius diangkat tetapi mungkin saja bersinggungan dengan masalah-masalah yang lain yang sudah sangat populer. Segala hal yang akan mendukung penulisan News Analysis harus ditempuh dengan reportase yang cukup dalam disertai studi pustaka. Tulisan News Analysis biasanya berbentuk Argumentatif.
6. Anatomi Berita
(1) judul atau kepala berita (headline);
(2) baris tanggal (dateline);
(3) teras berita (lead atau intro); dan
(4) tubuh berita (body).
TAHAPAN MENULIS BERITA
5 Tahap yang harus dilakukan seorang reporter :
1. Menemukan peristiwa dan jalan cerita
2. Cek, ricek dan tripel cek jalan cerita
3. Memastikan sudut berita
4. Menentukan lead atau sudut berita
5. Menulis berita
PEG
PEG atau pelatuk adalah pemicu suatu peristiwa. Sebelum ada suatu PEG maka tidak ada sebuah peristiwa. PEG lebih ditentukan oleh responsibilitas seorang jurnalis dalam memaknai keadaan di sekitarnya. Karena bisa saja yang oleh orang lain bukan peristiwa, tetapi bagi sang kuli tinta adalah sesuatu peristiwa yang menarik.
Sudut berita (Angel)
Sudut berita (angel) adalah sesuatu dari peristiwa yang kira-kira dianggap menarik untuk disajikan kepada pembaca, atau memiliki nilai market. Sudut berita akan langsung nampak pada head/judul atau secara singkat akan dituliskan pada intro (Lead). Kemampuan memilih sudut berita yang tepat biasanya dipengaruhi oleh pengetahuan/wawasan penulis terhadap kebutuhan pambaca.
LEAD ( intro )
Lead atau awalan adalah pengawalan sebuah tulisan berita yang berisi penjelasan ringkas terhadap keseluruhan isi berita/tulisan. Diharapkan dengan hanya membaca Lead pembaca akan segera tahu apa isi tulisan secara keseluruhan. Lead sebaiknya tidak terlalu panjang, cukup dengan 2 atau 3 kalimat dan memuat semua unsur 5W 1 H. Lead dengan jenis-jenisnya cukup banyak ada lead PEG, lead epigram, lead kontras, lead pertanyaan, dll.
Badan Tulisan
Badan tulisan adalah isi yang menjelaskan isi dari tulisan/berita. Badan tulisan ini ditulis dengan berbagai gaya prosa dan memenuhi syarat piramida terbalik dan mengandung unsur 5W 1 H.
Metabolisme Intelektual
Untuk menuju pada integrated of jurnalism dan Jurnalisme Presisi dibutuhkan sebuah iklim belajar dan diskusi serta daya kritis tertentu. Hal ini dapat ditembuh dengan mengoleksi data yang sebayak-banyaknya dari Buku-buku, pendapat para ahli, Media massa, hasil-hasil penelitian dan resume-resume diskusi. Ini diperlukan karena tulisan seorang jurnalis selain berfungsi informatif, juga harus bisa memobilisasi aspek kesadaran pembaca. Banyaknya pengetahuan dan wawasan dari sumber-sumber tadi akan lebih memberikan legitimasi pada tulisan, sehingga lebih berat dan bermutu..
METODE PENULISAN BERITA
Dalam penulisan berita sering dipakai metode penulisan dengan PIRAMIDA TERBALIK (inverted pyramid style). Penggunaan konsep ini hanyala untuk simbol yang menggambarkan, bahwa dalam konsep PIRAMIDA TEGAK, bagian bawah piramida yang paling lebar dapat diartikan sebagai bagian yang paling penting. Sehingga karena kakuatannya itulah maka bagian bawah piramida menjadi bagian yang terpenting untuk membuat piramida dapat berdiri tegak. Sedangkan puncak kerucutnya dianggap yang tidak penting. Otomatis ketika piramida itu dijungkirkan atau dibalikkan dengan kerucut di bagian bawah, maka bagian yang terpenting berada di atas atau menjadi awal penulisan berita. Dalam aplikasi penggunaan konsep piramida terbalik , maknanya menjadi sebagai berikut:
a. Inti Cerita di Alenia Awal
b. Memudahkan Penyuntingan
c. Alur Mengalir
Dengan demikian, rekonstruksi terhadap makna “piramida terbalik” dan “piramida tegak” dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Ciri piramida tegak menggunakan alur cerita yang kronologis, SEDANGKAN piramida tegag tidak mementingkan kronologis
b. Tahapan penulisan piramida tegak: (1) introduksi, (2) fakta (pokok masalah), (3) klimaks (kesimpulan), SEDANGKAN piramida tegak tahapannya: (1) lead (inti berita-klimak), (2) atmosfir (gambaran suasana inti cerita), (3) background (latar belakang peristiwa), (4) fakta pendukung (fakta-data pelengkap).
Untuk straigh news struktur yang dipakai adalah piramida terbalik, unsur terpenting dimasukkan dalam teras, begitu seterusnya sampai unsur yang tidak penting. Sedangkan untuk news feature atau in dept news tidak terikat pada struktur piramida terbalik. Struktur lebih bebas.
PRINSIP DALAM MENULIS BERITA
Ciri tulisan yang baik adalah mudah dipahami. Karena itu perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini:
► Buang kata atau kalimat yang tidak perlu
► Gunakan kata yang sudah akrab dengan pembaca
► Gunakan kata-kata kongkrit
► Buat lebih spesifik
► Buat kalimat positif
► Gunakan kalimat natural-sederhana
Apakah cuma itu? Nggak, masih banyak hal yang bisa kita lakukan dan dalami, tapi pada umumnya apa yang dilakukan dalam proses menulis adalah seperti itu.
MENULIS LAPORAN UTAMA
Laporan utama adalah bagian dari in dept news, jadi penulisannya harus mendalam.Sebuah laporan mendalam digunakan untuk menulis permasalahan secara lebih lengkap, mendalam-analitis, sehingga pembaca akan lebih mendalami duduk perkaranya. Kompleksitas suatu peristiwa menyebabkan suatu peristiwa perlu disoroti lewat sejumlah sudut pandang agar pembaca memperoleh pemahaman lebih baik, lebih lengkap dan menyeluruh. Sehingga dengan laporan mendalam ke arah mana suatu peristiwa berkembang akan lebih mudah dipaparkan .
Begitu pula kaitan yang lebih jelas antara sebab akibat dan lain lain. Sekarang kita akan memasuki bagian yang lebih teknis dari penulisan berita LAPUT. Ada beberapa langkah yang harus di lewati terlebih dahulu, sebelum kita menuliskan data dan hasil reportase. Bagian paling penting adalah di awal, ketika kita hendak terjun ke lapangan yaitu menentukan angel dan focus berita. Kedua hal ini penting untuk menghindari mengaburan tulisan. Angle berasal dari istilah bahasa Inggris yang berarti sudut pandang.
Dalam jurnalistik, sudut pandang ini mempunyai "arti lain". Artinya, ia tidak hanya cara bagaimana kita memandang persoalan tapi juga menentukan inti persoalan atau focus. Menentukan angle tak bisa dilepaskan dengan focus. Karena tanpa keduanya, berita akan melebar kemana-mana dan tidak terkontrol. Akibatnya, pembaca tidak akan mengerti maksud dari tulisan tersebut. Focus sendiri berarti titik perhatian dari sebuah angle yang dipilih.
Contohnya, Peristiwa Semanggi. Angle yang dipilih bisa, bagaimana jalannya peristiwa tersebut, sehingga berita yang kita tulis lebih bersifat kronologis. Atau, anglenya siapa korban dari peristiwa berdarah tersebut. Dengan angle siapa yang menjadi korban maka focusnya bisa dari Ayu (4 th) korban kebrutalan aparat. Selanjutnya silahkan berlatih sendiri.
Untuk menentukan struktur berita khususnya berita mendalam maka struktur berita yang dipakai adalah bentuk piramida. Bentuk piramida ini terdiri dari :
1. Teras berita/ lead
2. Transisi/ brigde
3. Tubuh berita
4. Penutup
Dalam penulisan ini maka semua yang disampaikan penting, mulai dari teras sampai penutup. Konsep 5W+1H disampaikan dalam keseluruhan penulisan sehingga pembaca diharuskan untuk membaca keseluruhan tulisan.
Dalam penulisan laporan utama penulis harus berhati-hati agar tulisan tidak melebar kemana-mana. Untuk itu ada beberapa teknik menulis, yaitu:
1. Spiral : setiap alenea menggarisbawahi persoalan yang disebut dalam alenea berikutnya.
2. Blok : bahan cerita disajikan dalam alenea terpisah-pisah secara lengkap
3. Mengikuti tema : setiap alene menegaskan leadnya.
Apa yang tertulis di atas adalah sekedar teori saja. Lalu bagaimana prakteknya? Karena tidak jarang setelah wawancara, hasil reportase tersebut masih tetap berupa percakapan, dan belum ditulis dalam bentuk berita.
Barangkali beberapa hal dibawah ini perlu untuk dicoba:
a. Anda harus benar-benar memahami topik yang akan anda angkat
b. Baca dan pahamilah apa yang menjadi maksud dari hasil reportase anda
c. Beri tanda pada point-point yang anda anggap “masuk” dan sesuai dengan topik anda, terlebih lagi pada angel dan focusnya
d. Juga beri tanda pada jawaban yang sama/pro atau berbeda/kontra antara narasumber satu dengan narasumber lainnya
e. Cobalah anda membuat kalimat sendiri, namun mempunyai pengertian dan maksud yang sama dengan kata narasumber, untuk menjembatani beberapa pernyataan narasumber yang “nyamburng”. (tidak untuk kutipan)
f. Jika ada jawaban yang anda anggap alternatif, kritis atau klise, maka akan bagus untuk dijadikan kutipan langsung.
g. Lengkapi hasil reportase anda dengan tambahan informasi dari pustaka dan sumber-sumber lainnya, yang anda anggap sesuai dan layak.
h. Langsung saja ditulis, dibaca ulang dan dievaluasi, apakah ada kata, kalimat atau paragraf yang “tidak nyambung” atau perlu untuk direvisi.
i. Lakukan berulang-ulang jika ingin hasil yang optimal.
Dalam menuliskan LAPUT, janganlah berandai kalau pembaca sudah tahu, sebab bukan anda yang akan membaca melainkan orang lain (ingat penggunaan istilah asing!). Sehingga jelaskan sampai detil peristiwa atau pesan anda pada pembaca, meski sudah ada media lain yang mengangkat peristiwa yang sama. Juga jangan lupa untuk melibatkan pembaca dalam tulisan. Artinya, untuk melibatkan pembaca tentukanlah keberpihakan anda sebagai seorang jurnalis.
SIASAT DAN CARA MENULIS
Informatif & Komunikatif
Usahakan-lah menulis dengan bahasa yang informatif, jelas dimengerti dan mudah sampai ke pemahaman pembaca. kata Ernest Hemingway : untuk bisa menulis prosa yang efektif penulis pertama-tama harus mengumpulkan kepingan informasi serta detil Konkret yang spesifik dan akurat -- bukan kecanggihan retorika atau pernik-pernik bahasa. Ya, begitulah.
Sebab bahasa informatif dan komikatif disini adalah bahasa-tulisan yang efektif, dan padat. Artinya hindari pemakian bahasa yang ber-tele-tele.
Sekedar contoh ;
“ menurut hemat saya …” diganti menjadi “ saya kira …”
“ agar supaya …” diganti menjadi “supaya… “ atau “ agar….” Saja.
Karena pada umumnya dalam tulisan media cetak (Jurnalistik) editor mengharapkan tulisan yang padat dan ketat.
Seseorang yang menullis karangan pendek bukanlah berarti hanya sedikit yang hendak dikatakannya, melainkan banyak hal namun dirangkai dengan kata yang tepat, sedikit dan tidak berbunga-bunga. Dengan sedikit saja maknanya akan banyak dan meninggalkan kesan yang berarti.
Signifikansi
Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Dia mengingatkan pembaca pada sesuatu yang mengancam kehidupan mereka, kesehatan, kemakmuran maupun kesadaran mereka akan nilai-nilai. Dia memberikan informasi yang ingin dan penting diketahui pembaca. Serta meletakkan informasi itu dalam sebuah perspektif yang berdimensi: mengisahkan apa yang telah, sedang dan akan terjadi. Oleh sebab itu prinsip dasar jurnalistik (5W+1H) juga beralaku dalam karangan.
Juga perlu ketepatan, artinya prinsip “ Kata yang tepat untuk peristiwa yang tepat.” perlu diperhatikan.Seseorang yang ingin menulis, misalmnya, di sebuah media. Ia harus memperhatikan Head-line atau perkembangan berita yang sedang berjalan. Denga siasat Riding The News seseorang bisa memungkinkan tulisannya di muat.
Fokus
Tulisan yang sukses biasanya justru pendek, terbatasi secara tegas dan sangat fokus. ''Less is more,'' lagi-lagi kata Hemingway. Umumnya tulisan yang baik hanya mengatakan satu hal. Mereka mengisahkan seorang serdadu atau seorang korban, bukan pertempuran. Memperbincangkan sebuah person, sebuah kehidupan, bukan sebuah kelompok sosio-ekonomi.
''Don't write about Man, write about a man,'' kata Elwyn Brooks White, seorang humoris Amerika.
Maksudnya, untuk menciptakan warna tulisan tidak perlu royal kata. Gantilah kata yang bersifat umum menjadi kata yang mengandung makna khsus, spesifik. Contoh : “Peserta rapat itu terdiri dari berbagai suku bangsa yang ada di tanah air kita.” Sebaiknya dirubah menjadi “ peserta rapat itu terdiri dari suku Sunda, Batak, Minang dan Bali.dst.
Konteks
Tulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan kemana mengalir, seberapa jauh dampaknya dan seberapa tipikal. Penulis yang tak terlalu piawai akan menyajikan konteks dalam sebuah kapsul besar secara sekaligus, sehingga sulit dicerna. Penulis yang lebih lihai menggelombangkan konteks ke seluruh cerita. Namun, ada tiga unsur yang perlu diperhatikan disini yaitu ; Kebenaran isi karangan, manfaat bagi para pembacanya pada umumnya, dan enak/indah waktu dibaca. Jadi perlulah dicari konteks-nya.
Bentuk
Tulisan yang efektif memiliki sebuah bentuk yang mengandung dan --sekaligus -- mengungkapkan cerita, gagasan dan ide. Umumnya berbentuk narasi (-ilmiah). Dan sebuah narasi bakal sukses jika memiliki semua informasi (referensi tekstual dan atau faktual) yang dibutuhkan pembacanya apalagi jika gagasannya bisa diungkapkan dalam pola kronologis aksi-reaksi. Penulis harus kreatif untuk menyusun sebuah bentuk yang memungkinkan pembacanya memiliki kesan komplet yang memuaskan. Maka menguasai banyak kosa-kata untuk lebih menghasilkan karya yang lebih meyakinkan lebih diutamakan dari pada menggunakan kata yang dipinjam dari pengarang/buku lain.
KENDALA DALAM MENULIS
a. Rasa malas mencari sumber referensi. Yang bisa berupa buku-buku, media massa/elektronik, atau pengalaman. Bila rasa malas menghinggapi seorang penulis pemula, jangan harap segala impin dapat menjadi nyata. Lebih-lebih malas mencari sumber referensi, sementara dari referensi-referensi ini akan diperoleh informasi dan wawasan serta pengetahuan yang laus.
b. Krisis ide. Seorang penulis profesional bisa saja mengalami krisis ide apalagi penulis pemula. Untuk itu sebagai penulis dituntut kreatif dalam mencari ide bahasan.
c. Kurangnya berlatih. Biasanya kurangnya berlatih menulis ini akan mempengaruhi beberapa hal, yaitu ;
► Ketidak-mampuan mengembangkan masalah padahal ide sudah menumpuk di dalam otak, yang akhirnya menyebabkan kemacetan dalam menulis.
► Terjadinya bahasa yang kaku dalam penyusunan kalimat yang menyebabkan suatu artukel (tulisan) sumbang dan tidak enak dibaca.
d. Takut salah dan takut dikritik. Padahal kesalahan adalah awal berbenah diri dan memperbaiki diri. Kalau fase ini belum dilalui, sulit bagi seorang penulis untuk menjadi lebih profesional.
e. Takut gagal. Bila kegagalan pertama sudah menjadi momok bagi penulis pemula, keberhasilan pun sulit dicapai. Penulis profesional pun pernah gagal.
BAGAIMANA BELAJAR MENULIS
Ibarat orang yang ingin belajar berenang. Maka orang itu harus berani terjun langsung ke dalam air. Begitu juga dengan belajar menulis. Ada beberapa yang perlu diperhatikan untuk menuju dunia tulis-menulis (mengarang).
Berlatih, Jika ingin jadi pengarang atau penulis tanpa mencoba memulai dan latihan, walupun sejam sehari, lebih baik jangan berangan-angan untuk mejadi pengarang. Sebab bobot tulisan seseorang akan lebih tinggi manakala ia semakin rajin berlatih menulis. Dan pengalaman disana akan lebih menentukan dari pada yang lain dalam perjalanan seorang pengarang.
Berfikir, Dalam proses belajar, kebiasaan membaca juga penting dalam memperkuat katajaman menulis. Cara yang lain juga dengan sering berdiskusi. Mendengarkan radio dan menonton TV, entah rubrik/acara yang ringan atau berbobot. Hal ini menjadi penting untuk memperluas wawasan.
SEKEDAR KESIMPULAN
Tugas seorang jurnalis adalah menyampaikan berita yang belum diketahui masyarakat umum. Tapi, sebuah berita tidak harus tentang sesuatu yang besar. Berita atau tulisan yang menarik tidak mesti berangkat dari kejadian besar. Kejadian yang sepintas lalu tampak sepele atau kecil, ditangan jurnalis yang peka akan dapat menjadi bahan penulisan berita yang menarik. Ini menyangkut bagaimana cara mengemas. Ada pepatah: pena boleh sama, yang membedakan (adalah) siapa di belakangnya.
Secara sederhana, sebuah karya jurnalistik paling tidak harus menjawab pertanyaan 5 W + 1 H : Who (siapa), What (apa), When (kapan), Where (dimana), Why (mengapa) dan How (bagaimana). Prasyarat ini harus dipenuhi dalam setiap penulisan jurnalistik, baik itu straight news, spot news, feature (berita kisah), reportase, resensi, dll. Kendati demikian, untuk mengemas berita yang baik, syarat-syarat diatas belum cukup. Masih harus ditambah dengan jawaban so what? (selanjutnya bagaimana) atau what are the implications of this story? (apa implikasi dari berita itu?) dan What is the significance of the story? ( apa pentingnya berita itu ditulis?)
Ketika sebuah berita selesai Anda tulis, lihatlah apakah tulisan itu sudah mampu menjawab pertanyaan berikut. Jika belum, perlu Anda tambah lagi. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah:
• Apakah cerita atau berita yang Anda tulis itu relevan dengan situasi?
• Apakah tulisan itu punya tujuan pembaca?
• Apakah tulisan itu mampu memberi pengaruh pada pembaca?
• Apakah fakta-faktanya akurat?
• Apakah tulisan itu balance atau imbang termasuk sumber beritanya?
• Aapakah sudah memenuhi syarat 5 W + 1 H dan komprehensif?
• Apakah berita itu cukup memberi penjelasan lengkap pada pembaca?
• Apakah cara penyajiannya jelas?
• Apakah sajiannya punya daya tarik?
Wonosobo, 09 Mei 2009
Subscribe to:
Comments (Atom)
