Pada tataran yang paling sederhana sebenarnya kita sudah biasa meresensi. Ketika kita berkomentar atau bercerita kepada orang lain tentang suatu peristiwa, setidaknya sudah bisa dikatakan melakukan resensi terhadap suatu peristiwa tersebut. Menyampaikan kembali, menilai atau membandingkan suatu kejadian dengan kejadian lain misalnya, itulah arti - sekali lagi secara sederhana - dari meresensi. 
Demikian pula dengan meresensi buku, pada dasarnya dapat berarti mengulas kembali isi maupun seluk beluk buku tersebut. Namun jika hasil resensi itu dimaksudkan untuk diekspose di media massa, maksudnya dikirim ke sebuah koran atau majalah - tabloid juga bisa - tentunya harus dibuat sedemikian rupa, sehingga layak atau menarik untuk dikonsumsi pembaca. Pada tataran inilah seorang resensor memerlukan penguasaan teknik-teknik meresensi yang baik.
Sebelum masuk ke soal teknik, terlebih dahulu perlu pahami tentang cara atau model - atau boleh dibilang tahapan - resensi. Model atau tahapan ini adakalanya menjadi tolok ukur penguasaan resensor terhadap objek yang diresensi, sekaligus juga wawasan yang dimiliki resensor berkaitan dengan objek tersebut. Ada tiga jenis atau tahap resensi:
Pertama, cara deskriptif. Pada tahap ini resensor cukup mendiskripsikan isi buku secara singkat. Mirip membuat sinopsis. Tentu saja juga dilengkapi dengan identitas buku, penulis , serta penerbitnya. Konon cara ini paling mudah dan cocok untuk pemula.
Kedua, cara evaluatif. Selain mengemukakan isi buku, juga melibatkan penilaian terhadap buku tersebut. Memberikan kritik atau saran, baik menyangkut isi ataupun tampilan buku. Tentu saja cara ini satu tingkat lebih sulit daripada yang pertama. Resensor harus betul-betul memahami isi buku.
Ketiga, cara komparatif. Cara ini selain mengemukakan isi dan memberikan kritik, juga membandingkan dengan buku yang lain yang kurang lebih membahas persoalan sama. Apa kelebihan dan kekurangan buku itu. Jadi paling tidak harus membaca dua buku untuk perbandingan. Resensor dalam hal ini dituntut memiliki referensi yang kuat tentang persoalan yang dibahas dalam buku tersebut.
Sekarang menyangkut teknik. Pilih buku yang membahas persoalan aktual. Usahakan memilih buku yang ditulis penulis yang sudah punya nama. Diterbitkan oleh penerbit yang cukup terkenal. Baca dan cari hal-hal yang menarik dari buku itu. Jangan lupa mencatat sisi-sisi yang menarik tersebut. Ini berguna untuk memberi tekanan pada hasil resensi.
Buat skema ringkas isi buku. Beri judul resensi yang menantang. Tulis lead yang menarik. Judul dan lead ibarat wajah yang memberi kesan pertama. Jika judul dan lead bagus akan menarik untuk dibaca. Ingat kata iklan: “kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah….” Yang terakhir dan sangat penting adalah: MENCOBA. Setumpuk teori tidak ada artinya tanpa pernah mencoba mempraktikkan. Nah, selamat mencoba!

Demikian pula dengan meresensi buku, pada dasarnya dapat berarti mengulas kembali isi maupun seluk beluk buku tersebut. Namun jika hasil resensi itu dimaksudkan untuk diekspose di media massa, maksudnya dikirim ke sebuah koran atau majalah - tabloid juga bisa - tentunya harus dibuat sedemikian rupa, sehingga layak atau menarik untuk dikonsumsi pembaca. Pada tataran inilah seorang resensor memerlukan penguasaan teknik-teknik meresensi yang baik.
Sebelum masuk ke soal teknik, terlebih dahulu perlu pahami tentang cara atau model - atau boleh dibilang tahapan - resensi. Model atau tahapan ini adakalanya menjadi tolok ukur penguasaan resensor terhadap objek yang diresensi, sekaligus juga wawasan yang dimiliki resensor berkaitan dengan objek tersebut. Ada tiga jenis atau tahap resensi:
Pertama, cara deskriptif. Pada tahap ini resensor cukup mendiskripsikan isi buku secara singkat. Mirip membuat sinopsis. Tentu saja juga dilengkapi dengan identitas buku, penulis , serta penerbitnya. Konon cara ini paling mudah dan cocok untuk pemula.
Kedua, cara evaluatif. Selain mengemukakan isi buku, juga melibatkan penilaian terhadap buku tersebut. Memberikan kritik atau saran, baik menyangkut isi ataupun tampilan buku. Tentu saja cara ini satu tingkat lebih sulit daripada yang pertama. Resensor harus betul-betul memahami isi buku.
Ketiga, cara komparatif. Cara ini selain mengemukakan isi dan memberikan kritik, juga membandingkan dengan buku yang lain yang kurang lebih membahas persoalan sama. Apa kelebihan dan kekurangan buku itu. Jadi paling tidak harus membaca dua buku untuk perbandingan. Resensor dalam hal ini dituntut memiliki referensi yang kuat tentang persoalan yang dibahas dalam buku tersebut.
Sekarang menyangkut teknik. Pilih buku yang membahas persoalan aktual. Usahakan memilih buku yang ditulis penulis yang sudah punya nama. Diterbitkan oleh penerbit yang cukup terkenal. Baca dan cari hal-hal yang menarik dari buku itu. Jangan lupa mencatat sisi-sisi yang menarik tersebut. Ini berguna untuk memberi tekanan pada hasil resensi.
Buat skema ringkas isi buku. Beri judul resensi yang menantang. Tulis lead yang menarik. Judul dan lead ibarat wajah yang memberi kesan pertama. Jika judul dan lead bagus akan menarik untuk dibaca. Ingat kata iklan: “kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah….” Yang terakhir dan sangat penting adalah: MENCOBA. Setumpuk teori tidak ada artinya tanpa pernah mencoba mempraktikkan. Nah, selamat mencoba!

0 comments:
Post a Comment